Riset Media

PRITA MULYASARI DAN MASS MEDIA

DALAM PEMBENTUKAN OPINI PUBLIC

Berawal dari email yang dikirimkan ke teman-temannya, ia harus rela mendekam selama 21 hari dalam proses penyidikan kejaksaan Kota Tanggerang akibat dakwaan pencemaran nama baik. Ia menceritakan ketikakpuasannya  mengenai pelayanan medis di RS OMNI  Internasional.

Kasus tersebut menarik untuk dikaji  dari segi komunikasi massa. Berawal dari personal komunikasi kemudian menjadi meluas sampai terciptanya suatu opini umum. Mengapa itu bisa terjadi? Dalam kesempatan ini akan kami coba menganalisa dengan maksud untuk  mengetahui hal-  hal, aspek apa saja yang mempengaruhinya. Terlebih para Capres dan Cawapres menggunakan isu tersebut sebagai media penebar pesona menarik perhatian publik. Bagaimana tahapan dari pendapat pribadi sampai menciptakan opini umum? Sejauh mana keterlibatan media massa dalam penciptaan opini umum? baca lebih lanjut

Studi  kasus ini sebagai tugas akhir semester III yang sekaligus menjadi soal ujian semester, materi kuliah Riset Media, Sekolah Tinggi Multi Media ”MMTC” Yogyakarta. Sehingga jika banyak kesalahan dari analisa mohon masukan dari berbagai pihak untuk penyempurnaan tugas ini.

Prita Mulyasari adalah seorang pasien dari  RS Omni International, yang karena suhu badan naik/panas ia harus rawat inap. Dalam pemeriksaan laboratorium yang pertama trombositnya pertama hanya 27.000 namun dalam pemeriksaan yang kedua trombositnya 180.000. Berawal dari kejadian ini Prita Mulyasari menceritakan Ketidakpuasannya terhadap pelayanan RS Omni Internasional, melalui email  kepada teman-temannya. Email tersebut menyebar di dunia maya sampai luas. Merasa dirugikan dengan cerita Prita Mulyasari, RS Omni Internasional menuntutnya dengan dakwaan pencemaran nama baik. Setelah kejadian itu media televisi gencar menyiarkan berita seputar kasus Prita Mulyasari hingga berhari-hari. Media surat kabar menjadikan kasus Prita Mulyasari headline di surat kabar terbitannya mereka.

Ditinjau dari UU NO 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen merupakan hak dari seorangan konsumen yang tidak puas atas pelayanan medis dari RS OMNI internasional  untuk melakukan publik complaint terhadap kegagalan lembaga penyedia pelayanan [medis] dalam melaksanakan fungsinya. Pada tingkat penyidikan kepolisian di Tangerang pasal yang didakwakan terhadap Prita atas pengaduan dari  RS OMNI Internasional terkait email Prita tersebut adalah pasal pencemaran nama baik yang terdapat dalam KUHP. Namun Kejaksaan Negri Tangerang  menambah pasal 27 ayat  [3] jo pasal 45ayat [1]  UU No 11 tahun 2008 tentang ITE dalam berkas penyidikan yang berimplikasi dilakukannya penahanan di Rutan Tangerang terhadap Prita atas dugaan melanggar ketentuan UU ITE tersebut.

Agenda setting

Agenda Setting pertama kali diperkenalkan oleh Maxwell McCombs dan Donald L. Shaw pada sekitar tahun 1973 dengan publikasi pertamanya berjudul “The Agenda Setting Function of The Mass Media”. Secara singkat teori ini mengatakan media tidak tidak selalu berhasil memberitahu apa yang kita pikir, namun media tersebut benar-benar berhasil memberitahu kita  kita berpikir tentang apa. Media massa mengarahkan pada kita apa yang harus kita lakukan. Media memberikan agenda-agenda lewat pemberitaannya sedangkan masyarakatakan masyarakat akan mengikutinya. (Nurudin, Komunikasi Massa, 2003)

Dalam agenda setting terdapat tiga rangkaian proses dalam pembentukan opini umum. Peranan mediapun sangat menonjol dalam menciptakan suasana pilihan berita, media sebagai gatekeeer sangat menentukan apa yang akan dibangun dalam siaran beritanya. Tiga agenda tersebut ada agenda media,  agenda khalayak dan agenda kebijakan.

Dari kejadian dibebaskannya Prita Mulyasari yang telah mendekam di penjara selama 21 hari media televisi dan surat kabar gencar menyiarkan perkembangan kasus tersebut. Semula televisi hanya meyiarkan asal mula kasus tersebut terjadi, kemudian mengarah ke berita hubungan ibu dan kedua anaknya. Berita terus berkembang sampai ke perkembangan persidangan kasus Prita. Tidak luput pula berita manegemen RS Omni Internasional dan menyiarkan malpaktek-malprakter dokter yang pernah terjadi di Indoneseia.

Setelah pemberitaan pertama orang belum tahu siapa Prita Mulyasari, kemudia khalayak berusaha mencari tahu dari media lain yaitu internet atau media yang lain. Efek tadi pemberitaan itu sangat beragam, ada yang simpatik dengan Prita dengan memberi dukungan moril menggalang kekuatan untuk mendesak RS Omni Internasional di dunia maya. Dari kejadian ini ada sebagian orang mungkin tidak sedikit yang mengalami peristiwa serupa, bisa di tempat yang sama bisa juga di tempat yang lain. Hal inilah yang membuat kejadian ini mendapatkan perhatian masyarakat luas. Karena satu nasib sebagai konsumen dari suatu lembaga pelayanan publik mereka ingin tahu bagaimana perkembangan kasus tersebut. Andaikan peristiwa itu terjadi pada mereka bagaiman cara mereka (masyarakat) untuk mencari solusi.

Dengan pembertaan yang bertubi-tubi pada akhirnya menarik perhatian para birokrat terlebih para Capres. Dengan menggunakan kesempatan menarik perhatian publik untuk menebar pesona. Kalangan birokrat  dari MA sampai Departeman Kesehatan ikut turun tangan dalam kasus itu.

Dari Kejadian itu bisa kita analisa sesuai teori agenda setting. Peranan media termasuk di dalamnya reporter dan editornya sebagai gatekeeper menciptakan suatu berita sesuai apa yang akan mereka inginkan dengan mengedit dari fakta yang ada.

  1. Agenda Media

Media memuat berita Prita dengan megikuti perkembangannya. Dibikinnya berita yang sesuai mungkin kejadian ini sering dialami oleh orang lain tanpa bisa tahu bagaimana cara untuk menyalurkan komplaintnya. Sehingga banyak mendapatkan perhatian dari khalayak umum. Pengemasannya berita sepertinya dari awal media sudah condong mendukung Prita Mulyasari karena media menekankan pada kebebasan perpendapat yang menjadi prinsip pers.

  1. Agenda Khalayak

Kejadian Mulyasari masyarakat sadar akan kebutuhan mereka akan kebebasan menyampaikan pendapat. Masyarakat saling mendiskusikan pendapat mereka atas kejadian Prita Mulyasari. Responya bermacam-macam dengan penyaluran yang berbeda-beda, media yang mereka pilihpun lain. Masyarakat dengan sendirinya mengikuti berita dari media televisi dan surat kabar.

  1. Agenda Kebijakan

Pemerintah sebagai pihak yang paling diharapkan oleh masyarakat atas kejadian ini tidak bisa tinggal diam. Pemerintah dengan segala perangkatnya menelusuri kejadian ini untuk dicari pemecahan yang terbaik. Termasuk bila terjadi kesalahan dari lembaga pemerintah untuk segera diperbaiki.

Use and Gratification

Dilihat dari proses perlembangan komunikasi sampai terjadinya opini umum maka kejadian atau kasus Prita Mulyasai dapat kita katagorikan seperti teori komunikasi Use and Gratification dimana kejadian ini bukan tanpa sebab dan tujuan Prita dalam menyampaikan keluh kesahnya kepada teman-temannya melalui email.

Teori Use and Gratification pertama kali diperkenalkan oleh Herbert Blumer dan Elihu Katz dalam bukunya The Usesof Mass Communication: Current Perspectives on Gratification Tesearch. Khalayak sebagai pengguna media perperan aktif melilih media yang digunakan untuk memenehi kebutuhannya untuk memuaskannya. (Nurudin, Komunikasi Massa, 2003)

Dalam teori Use and Gratification mempunyai konsep dasar sebagai berikut (Katz, Blumler, dan Gurevitch, 1974:

  1. Sumber sosial dan psikologis dari
    1. Kebutuhan, yang melahirkan
  2. Harapan-harapan dari
  3. Media massa atau sumber-sumber yang lain, yang menyebabkan
  4. Perbedaan pola terpaan media (atau keterlibatan dalam kegiatan lain), dan menghasilkan
  5. Pemenuhan kebutuhan, dan
  6. Akibat-akibat lain, bahkan seringkali akibat-akibat yang tidak dikehendaki.

Dari konsep dasar di atas kita coba untuk melihat kasus Prita Mulyasari ;

  1. Latar belakang sosial dari kejadian itu adalah adanya pelayanan yang kurang baik dari RS Omni Internasional. Mungkin juga karena biaya berobat sekarang ini sudah mahal. Adanya dugaan malpraktek dokter.
  2. Kemudian karena Prita Mulyasari merasa dikecewakan maka ia mencoba berbagi perasaan dengan berbagi cerita kepada teman-temannya melalui email.
  3. Dengan harapan mendapatkan perhatian dari RS Omni International, juga agar kejadian ini tidak menimpa pada orang lain. Terlebih Prita mengharapkan suatu masukan dari teman-temannya bagaimana cara baiknya menghadapi permasalahan yang ia alami.
  4. Dalam menceritakan kejadian yang ia alami Prita Mulyasari menggunakan media internet dengan cara mengirim email kepada teman-temannya, karena merasa dirugikan dengan email Prita maka RS Omni internasional menuntut Prita dengan tuduhan  pencemaran nama baik.
  5. Setelah itu media televis ikut mengekpos berita kasus Prita Mulyasari sehingga masyarakat umum jadi mengetahui apa yang terjadi pada Prita Mulyasari, tidak hanya terbatas para pengguna internet. Dengan peran media massa baik telivisi ataupun surat kabar yang gencar menyiarkan berita tersebut, kemudian timbul berbagai reaksi dari khalayak.
  6. Aksi sosial mendukung Prita Mulyasari ada di mana-mana. Sampai Calon Presiden Indonesia menyempatkan memberikan dorongan moril kepadanya, dan desakan agar kasusnya diselesaikan dengan benar.
  7. Dari awal Prita tidak menduga jika emailnya yang semula sebagai media berkeluh kesah mencurahkan unek-eneknya sampai menjadi kasus nasional yang mendapatkan perhatian banyak orang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: